Dalihan natolo

Dampak Negatif Falsafah Dalihan Natolu

Jika mendengar tentang Batak, pasti akan terlintas bagaimana melekatnya adat dengan suku ini. Biasanya orang Batak tetap hidup di dalam adat walaupun sudah lama meninggalkan kampung halaman. Jika ingin mengenal Batak,atau menjalankan adat Batak, sudah pasti tidak bisa lepas dari istilah Dalihan Natolu. Jika diterjemahkan Dalihan artinya tungku (batu perapian), Natolu artinya yang berjumlah Tiga.


“Somba Marhula-hula, Manat Mardongan Tubu, Elek Marboru”
Somba artinya sembah, terlalu berlebihan kalau menyembah Hula-hula, mungkin maksudnya lebih ke hormat. Manat artinya berhati-hati, artinya sama teman semarga harus jaga sikap dan bicara. Elek artinya bujuk, artinya sama boru harusnya lembut.


Nah jika diaplikasikan dalam sistem kekerabatan, maka akan ada 3 pihak, yaitu Dongan Tubu, Hula-hula, Boru.
Dongan Tubu adalah teman semarga,
Hula-hula adalah Pihak yang semarga dengan Istri,mulai dari istri kita, himpunan marga ibu(istri bapak), himpunan marga istri opung,
Boru adalah pihak Boru , atau himpunan marga yang mengambil istri dari anak kita(anak perempuan kita.

Nah sesuai dengan fungsi tungku, maka ketiganya harus sama rata, bayangkan kalau tungku tinggi sebelah maka tidak akan bisa digunakan, begitu juga ketiganya memiliki fungsi sama dalam adat.

Namun kenyataannya dalam kehidupan sehari-hari ada beberapa hal yang membuat Dalihan Natolu buruk, beberapa orang atau kita sebut oknummembuatnya timpang, merasa lebih tinggi kedudukannya.

1.    Falsafah Dalihan Na Tolu dalam kehidupan sehari-hari  kurang  cocok  untuk diterapkan  karena sering disalah gunakan oleh orang Batak untuk kepentingan pribadi. Dalihan Na Tolu memiliki potensi memicu terjadinya korupsi, kolusi dan nepotisme.  Dalam dunia pekerjaan misalnya, profesionalitas sering terganggu akibat falsafah ini. Misalnya, pihak boru kadang sulit untuk menolak lamaran kerja hula-hula padahal hula-hulanya ini sama sekali tidak memenuhi syarat untuk pekerjaan itu.

2.    Penghormatan yang berlebihan terhadap hula-hula menyebabkan munculnya sikap fanatisme. Hal ini membuat orang Batak kehilangan unsur  obyektifitas dalam menilai sesuatu. Hula-hula bersalahpun tetap dianggap     benar, bahkan dibela habis-habisan sampai menimbulkan pertengkaran dengan saudaranya.

3.    Sikap boru yang menjadikan pihak hula-hula sebagai sumber berkat, karena hula-hula dianggap sebagai wakil Tuhan, dapat menyebabkan orang Batak menduakan Tuhan. Sikap seperti ini sering membuat orang Batak meletakkan adat di atas firman Tuhan, bahkan rela mengeluarkan uang yang banyak, sampai berhutang, demi melaksanakan upacara adat untuk meminta berkat dari hula-hula.

4.    Mengakarnya falsafah Dalihan Na Tolu dalam diri orang Batak, membuat orang Batak menjadi bersikap eksklusif sehingga sukar berbaur dengan masyarakat yang berbeda suku. Orang Batak juga sering menganggap bahwa budayanya adalah yang paling baik sehingga membuat orang Batak sukar menerima budaya lain secara positif.

5. Terlalu menghormati hula-hula menyebabkan adanya keengganan bahkan ketakutan untuk menegur, bahkan dalam keadaan Hula-hula berbuat salah. Misalnya ada cerita seorang pendeta Batak, karena kebetulan jemaat yang salah adalah hula-hulanya merasa tidak punya kapabilitas untuk menegurnya.

Nah untuk menghindari ini sebenarnya yang dibutuhkan adalah menempatkan diri sesuai porsinya dan jangan berlebihan. Artinya saat menjadi hula-hula ya kita jangan menganggap diri paling berkuasa, karena dianggap pemberi restu/berkat. Sejatinya isi Dalihan Natolu adalah nasihat saling menghormati (masipasangapon) dengan siapapun di sekitar kita.

Horas!

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.