3H hamoraon hagabeon hasangapon

Hamoraon, Hagabeon, Hasangapon Apakah Masih Relevan Dikejar Saat Ini?

Halo Batak people, kembali lagi di blog saya danijuntak. Saat ini saya akan membahas sesuatu yang cukup sensitif, dan tolong dibaca sampai selesai sebelum berkomentar ya, supaya tidak terjadi “slek” diantara kita.

Bagi yang pernah dengar lagu Batak “Alusi Au” pasti ingat penggalan lirik “Hamoraon, hagabeon, hasangapon ido di lului nadeba
Dina deba asal ma tarbarita goarna tahe

Jujur saja, nilai 3H ini yaitu Hamoraon(Kekayaan), Hagabeon (Berketurunan), Hasangapon (Penghormatan), adalah hal yang sangat dikejar oleh orang Batak, dan nilai ini diturunkan ke anak-anaknya, bahkan menjadi tolak ukur kesuksesan.

Mamora saja ga cukup, harus Gabe, Sangap saja ga cukup, harus mamora. Sebenarnya cukup wajar sih menggantungkan cita-cita setinggi mungkin, bukan hanya untuk orang Batak, tapi jangan dijadikan tolak ukur. Lihat saja di pesta-pesta acara adat Batak, klo orang namora (kaya) selalu dapat tempat di depan bukan? makanya semua berlomba-lomba pamer gelang, kalung, emas, saat acara-acara adat.


Hamoraon dari kata dasar mora atau kekayaan memang meningkatkan martabat keluarga, itu sebabnya untuk mencapai itu banyak yang menuntut ilmu setinggi-tingginya untuk mencapainya, itu juga sebabnya orang Batak berani merantau kemana saja demi memperbaiki taraf hidupnya, untuk apa? ya untuk menjadi kaya dan dipandang.

orang kaya
ilustrasi orang kaya banget

Hagabeon dari kata dasar gabe, atau berketurunan merupakan faktor penting, cuma punya anak perempuan saja sudah menjadi masalah bagi keluarga Batak, apalagi tidak punya anak. Ada umpasa, “Bintang na rumiris, ombun na sumorop” Anak pe riris, boru pe antong torop.” Artinya, bintang bertaburan, embun bergumpal menutup padang, anak laki-laki berbaris berbaris, anak perempuan banyak/ramai. Jadi jangan coba berpikir Childfree seperti orang Eropa jika anda masih jadi orang Batak 🙂

Ilustrasi Gabe berketurunan

Hasangapon dari kata dasar sangap, artinya dihormati, terpuji karena menjadi teladan, nah ini juga bisa karena 2 hal sebelumnya, sangap karena anda kaya dan berketurunan,hehe.
Harusnya sih tidak, seseorang menjadi dihormati karena tindakannya, pengaruh positifnya dalam masyarakat, bukan karena material yang dia punya, makanya agak susah menjadi sangap di saat sekarang. Bisa dibilang ini kasta atau status tertinggi dibanding nilai lainnya dalam kehidupan orang Batak.

ilustrasi dihormati dalam arti sebenarnya hehe

Filsafat hidup ini sebenarnya mengandung nilai-nilai luhur dan mulia karena secara tidak langsung memotivasi dan memacu orang batak untuk berjuang lebih gigih tidak mudah menyerah, kerja keras, tekun, memiliki antusiaisme yang tinggi, semangat kompetitif, juga tingginya pengharapan akan masa depan.

Namun harus diketahui semuanya harus didapatkan dengan cara yang benar tanpa harus menjatuhkan orang lain, mau kaya harus korupsi, mau kaya harus nyolong, kan jadi ga benar juga. Mau gabe juga sebenarnya ga bisa dipaksakan, bayangkan jika seseorang tidak punya anak laki-laki menjadi merasa dikucilkan atau tidak dianggap, atau bahkan jika seseorang mandul tidak punya anak maka ga bisa mendapatkan status hagabeon lagi.

Jadi menurut saya, filosofi 3H ini sebenarnya sah-sah saja, dan sepanjang ketiganya dicapai dengan cara yang benar dan positif. Toh sudah kodrat atau keinginan semua manusia juga untuk menjadi kaya, berketurunan dan dihormati bukan?
Tapi tidak menjadi kaya, itu pilihan kamu, tidak berketurunan juga itu pilihan kamu, tidak dihormati juga sama saja itu pilihan kamu.
Bukan menjadi paksaan atau tolak ukur kebahagian dan status kamu di masyarakat.

HORAS!

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.