upacara adat kematian batak

Kenapa orang Batak Berpesta saat Kematian?

Di tanah rantau ini, pertanyaan ini sering ditanyakan oleh teman-teman saya apalagi yang memiliki suku dan budaya yang berbeda.
Baru-baru ini ada video viral ada keluarga yang menyanyikan “Makan daging anjing dengan sayur kol” sambil berjoget riang di acara kematian salah satu anggota keluarganya. Menurut orang-orang ini akan sangat aneh, kok bisa-bisanya orang seperti berpesta pora dihadapan bangkai orang mati, apakah karena senang dengan kematian itu?
Jawabannya IYA. Tapi senang disini berbeda, bukan senang dengan wajah bengis seperti di sinetron Ind*siar karena melihat lawannya mati.

Berjoget di sebelah mayat sumber: FB Rico Simamora


Senang disini karena bersyukur, bersyukur bahwa kematian ini adalah awal dari kebahagian dari yang sudah meninggalkan mereka, karena diyakini surga adalah tujuannya. Senang dan bersyukur karena si almarhum sudah menyelesaikan tugasnya dengan baik di bumi ini, tugas terhadap keluarganya, saudara-saudaranya, dan meninggalkan tanpa beban, utang dan lain-lain.

Tapi tunggu dulu, tidak semua kematian dipestakan atau dilakukan dengan adat dan acara meriah. Ada beberapa kematian yang tidak melalui prosesi adat penuh (adat na gok). Untuk menjelaskannya, maka saya akan menyebutkan beberapa status kematian orang Batak (hehe pake status dong).

  1. MATE DI BORTIAN, meninggal pada saat masih dalam kandungan. Untuk kematian jenis ini tidak ada acara adat dan biasanya langsung dikubur.
  2. MATE POSO-POSO,meninggal saat masih bayi. Untuk kematian jenis ini orang tua yang ditinggalkan menutupi/membungkus jenazah bayinya dengan ulos.
  3. MATE DAKDANAK, meninggal saat masih kanak-kanak. Untuk kematian jenis ini biasanya tulang (paman/saudara laki-laki ibu) menutupi bere-nya (keponakan) yang meninggal dengan ulos.
  4. MATE BULUNG,meninggal masih remaja atau ketika beranjak dewasa. Sama seperti mate dakdanak, di sini jenazah juga ditutupi dengan ulos oleh tulang.
  5. MATE PURPUR, meninggal dengan keadaan tidak punya keturunan sama sekali, ini salah satu kematian yang dianggap paling menyedihkan di orang Batak, misalnya seorang bapak/ibu yang meninggal saat belum punya anak.
  6. MATE PUNU,meninggal dengan keadaan tidak memiliki anak Laki laki sebagai penerus marga walaupun punya anak Perempuan
  7. TILAHAON, ini sebutan untuk orang tua, yang anaknya meninggal, sementara anaknya belum menikah baik masih anak-anak maupun sudah dewasa . Tilaha = anak yg Wafat , Tilahaon =, orang tuanya.
  8. MATE MANGKAR, salah satu bapak / ibu yang meninggal serta meninggalkan anak-anak belum ada yang menikah .
  9. MATE HATUNGGANEON,meninggal ketika sudah menikah dan mempunyai anak yang sudah menikah, namun anaknya itu belum mempunyai keturunan. Dengan kata lalin, yang meninggal belum mempunyai cucu.
  10. PONGGOL ULU, status meninggal untuk seorang bapak , meninggalkan Isteri dan anak- anak yang belum dewasa (Marsapsap Mardum ) .
  11. MATOMPAS TATARING, status meninggal untuk seorang ibu, meninggalkan suami dan anak- anak yang belum dewasa.
  12. SARIMATUA, Seorang bapak / ibu meninggal, sudah punya cucu dari anak , punya cucu dari boru/anak perempuan, namun masih ada anaknya yang belum nilah baik laki atau Perempuan.
  13. SAURMATUA : Seorang bapak / ibu meninggal , punya cucu dari anak laki- laki , punya cucu dari anak perempuan , dan semua anak sudah menikah (simpan) walaupun masih ada anak / borunya yang belum punya keturunan yang penting sudah menikah ( sohot)
  14. SAURMATUA GABE/ SAUR MATUA BULUNG : Seorang bapak/ ibu meninggal , sudah punya cicit ( nini ) ,artinya anak laki-laki nya sudah ada yang punya cucu.
  15. MAULIBULUNG : Seorang bapak / ibu meinggal sudah punya buyut ( anak laki-laki dan anak perempuannya sudah punya cucu) sering disebut MARNINI MARNONO. *Syaratnya Anak sudah nikah semua , semua punya keturunan dan tidak boleh ada yang meninggal mendahului bapak /ibunya . Nah..status ini lah yang paling tinggi di Adat Batak dan sangat jarang ditemukan saat ini .

Total ada 15 status atau jenis kematian orang Batak, cukup banyak memang. Kenapa orang mati harus diberikan klasifikasi tersebut ternyata adalah untuk mengetahui posisi seseorang di adat, dan bagaimana akan diperlakukan, karena setiap status kematian akan beda perlakuannya.
Seperti mati dalam keadaan anak-anak, tidak mungkin keluarga akan menari atau manortor di hadapan mayatnya. Acara meriah biasa dilakukan pada saat seseorang sudah Saur matua atau Mauli Bulung, karena buat apa bersedih lagi, toh yang mau meninggal biasanya juga sudah tua, bahkan sudah ikhlas meninggalkan dunia.

Upacara Adat Kematian Batak sumber: dokumen pribadi danijuntak.com

Referensi:

https://sitorusdori.wordpress.com/
https://hitabatak.com/

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.