mandok hata

Tradisi Mandok Hata Tanda Betapa Kakunya Orang Batak

Setiap akhir tahun, keluarga Batak biasanya berkumpul dan beribadah bersama di detik-detik pergantian tahun, biasanya dimulai pukul 00:00. Nah ada satu hal yang dianggap wajib kalau anda berada di keluarga Batak dan kristen, yaitu tradisi “Mandok Hata”. Kegiatan yang lebih sakral dari ibadah itu sendiri bagi sebagian orang.
Jika diterjemahkan mandok : mengucapkan/mengungkapkan , hata : kata, artinya persis dengan berkata-kata,yang isinya berupa syukur,curhat,minta maaf, nasehat, cengkunek atau unek-unek yang ingin disampaikan.

Saya masih belum mendapatkan riset dari mana asal-usul tradisi mandok hata ini, apakah dari Belanda atau Jepang? Atau apakah dari Nommensen? Kalau tradisi perjamuan makan bareng Yesus, harusnya bukan di tahun Baru dong ya? Jadi jika pembaca kira-kira tahu dari mana tradisi mandok hata ini, silahkan berkomentar ya.

Untuk remaja dan anak muda saya yakin kita sama, tidak suka dengan kegiatan ini kan? Hehe
3 sampai 4 jam duduk di tikar itu lama loh. Sudah pasti tidak bisa keluar dan bermain kembang api bersama teman-teman, karena jika kalian lahir di keluarga yang masih sangat kental dengan adatnya, maka tidak mengikuti acara mandok hata adalah sama dengan seperti malin kundang yang menghianati keluarganya. Tentu sangat lebay, menurut sebagian orang.

mandok hata
ilustrasi Mandok hata sumber: https://pariwisataindonesia.id

Mandok hata biasanya dimulai dari anak terkecil, atau cucu terkecil yang biasanya pendek saja, hanya ucapan tahun baru, kemudian ke remaja dan orang-orang tua yang terakhir karena jelas lebih panjang dan lama biasanya. Terbalik ya? harusnya yang muda yang banyak berbicara,yang tua mempersiapkan diri menghadap Tuhan saja hehe.

Penulis merangkum setidaknya beberapa hal yang menjadi kontroversi dengan kegiatan mandok hata ini,

  1. Hanya menghabiskan Waktu
    Bagi sebagian orang kegiatan ini cukup membosankan, banyangkan saat berkumpul dengan keluarga besar, semua akan mandok hata dari mulai cucu, anak, tulang, nantulang, inang tua, bapa tua, adek, kakak, mamak, bapak, opung. Hitung saja kalau ada 5-10 keluarga dalam satu ompung/keluarga besar semua harus mandok hata, bisa selesai subuh atau pagi.
  2. Tidak Afdol kalau tidak Nangis
    Baru kalimat pertama sudah nangis, sepertinya nangis karena dilihatin banyak orang atau nervous, atau benar-benar menghayati, atau air mata buaya? tidak tahu. Biasanya yang menangis akan dianggap lebih tulus atau benar-benar ucapannya. Jadi yang ga biasa nangis harus belajar nangis ya.
  3. Dipaksa dan Wajib
    Mungkin hanya yang bisu yang ga wajib dalam acara mandok hata ini, walaupun mungkin bisa dalam bahasa isyarat ya. Intinya segala sesuatu yang bisa berbunyi diwajibkan mendapat antrian dalam acara mandok hata ini.
    Kamu juga harus benar-benarkan mengosongkan jadwal bersama rekan,teman, pacar atau siapapun untuk ikut acara mandok hata ini. WAJIB!
  4. Mempertontonkan Aib keluarga pada keluarga Lain
    Bayangkan Nantulangmu menceritakan aib Tulang atau pamanmu di acara ini. Atau Ibu mertua mu, menceritakan keburukanmu yang dibungkus dalam curhatan atau nasehat. Benar-benar mengerikan.
  5. Minta Maaf hanya Sekali Setahun?
    Aneh memang, masa iya harus menunggu mandok hata dulu baru bisa menyampaikan maaf. Yang ada terkesan tidak tulus dan yang memaafkan juga merasa terpaksa kalau menolak maafnya di saat itu.

Sampai disini sudah terlihat kan kenapa saya katakan kaku nya orang Batak, yang meminta maaf saja hanya sekali setahun, padahal bisa dilakukan sehari-hari. Yang juga menyimpan unek-uneknya sampai akhir tahun baru diledakkan pada jam 00:00 seperti petasan. Bayangkan saat mandok hata juga kamu baru dibeberkan kesalahan-kesalahan kamu selama setahun (misalnya kamu sering mengupil dan lupa ngasih makan ayam) yang seharusnya setiap kamu salah bisa saja langsung dinasehati dan ditegur. Jadi jangan merasa kamu setahun ini baik-baik saja tidak punya salah, karena biasanya pas acara mandok hata ini ternyata list-list kesalahanmu baru diungkapkan. BOOM!

Terlepas dari semua itu, tradisi ini ada nilai positifnya, seperti melatih untuk berbicara di depan umum sedari kecil atau dilatih untuk menjadi pendengar yang baik (sampai ngantuk…).
Tidak salah untuk tetap mempertahankannya, tidak salah juga jika tidak melakukannya, semua kembali lagi ke keputusan keluarga. Tradisi tetap tradisi, tidak ada hukum atau Undang-undang yang mewajibkannya atau memberi sanksi jika tidak melakukannya. Jadi ya jika dirasa lebih banyak memberi nilai positifnya silahkan dilakukan.

Related Posts

One thought on “Tradisi Mandok Hata Tanda Betapa Kakunya Orang Batak

Leave a Reply

Your email address will not be published.